Selasa, 12 Februari 2013

Sahabatmu yang Kesepian

Sejak kau tertawa lepas dalam genggaman itu..
Samar-samar garis bayang diriku memudar, menghilang ke bingkai antara, ada dan tiada..
Aku senang, akhirnya kau juga merasakan cahaya di tengah masa lalumu yang kelam..
Aku senang akhirnya kau temukan mutiara di sebingkai hidupmu yang berat..
Aku senang ..
Aku senang, paling tidak kutau kau bahagia disana meski matamu tak lagi tampak untukku..
Aku senang di atas tawa bahagia cerita2mu meski kini suaramu tak gy kudengar bingar selantang egomu dulu..
Aku senang, menyaksikanmu memajang foto2 bahagia itu pada profil meski hanya mampir beberapa menit di berandaku..
Aku ikut senang kau senang, karena kini tak ada gy cerita2mu yang memilukan..
Aku senang melihatmu menggenggamnya pada sebaris album di facebookmu meski genggamanmu tak lagi ada untukku..
Aku senang..
Aku ikut senang kau senang..
Aku senang..
Aku senang mengenang saat-saat kebersamaan kita..
Menitikkan air mata pun aku senang..
Meski Digenangi kesepian, dihatiku kau masih sahabatku...
...

Minggu, 06 November 2011

...

langkahku mulai terendap oleh...
sunyi yang terhujam jadi kuburku melihat masa depan..
entah apa yang terjadi saat ini..
kuhanya membisu di tengah parit tantangan perjuangan..
ada apa denganku..
mengapa masih saja kumenangis begini..
bukankah hasilnya akan sama saja meski bukan lagi air mata yang menggarisi pipi..

Senin, 31 Oktober 2011

hujan di hatiku

bukankah darahku masih segar akan luka-luka yang cinta tikamkan padaku?
bukankah nyawaku masih diujung tanduk ketika rasa itu pergi, kau dan dirinya?
bukankah teramat singkat untuk cintaku yang padat bila semua ini musnah?
aku masih tertawa dan tersenyum di sepanjang mata sekitarku..
aku masih riang bermandikan canda dan kata-kata..
aku masih sepolos saat itu, saat cinta mengendap-endap masuk ke nadi di darahku..
aku masih sebodoh saat kuputuskan pergi 'tuk membencimu, membatasi cinta ini tumbuh dan mengoyak ragaku dari dalam..
bukankah rintik ini begitu sunyi?
begitu padu pada symponi malam pekat yang bertebar di hatiku..
kosong, hanya secerca asumsi tak berdalil..
hanya aku dan tetes hujan ini..
hujan di hatiku..
....

Satu Hati Saja

Lelah, begitulah malam..
Kala aktifitas mulai akan redupnya..
Kesepian itu hadir lagi bagai serigala buta mengaum ke seluruh penjuru jagad tanpa ada satupun jiwa yang memahami akan arti sepi ini..
Kesepian memang masih terasa menyakitkan buatku yang hampir menatap kosong pada semua langit yang berkibar..
Adakah satu saja hati yang kan sudi disini menemaniku sebait, dua bait, sampai di penghujung bait terakhirku..
Tersenyum mencintai cintaku, yang takan putus...

Minggu, 09 Oktober 2011

Eksponen Aksara Buta (Konstanta Berpangkat Nol)

Pohon faktorku beruntai berantakan..
Korespodensi satu-satu pun terbentuk, mengalikan luka dan kepedihan..
Cinta, mengakarkan kasih sayang jadi ketulusan..
Air mata, eksponen aksara buta yang membisukan segala suara kecuali hati..
Satu demi satu geometri asumsi terbentuk, terangkum aritmatika bilangan tak hingga entah sampai kapan..
Bahkanpun bila mungkin sudut pandangmu mengerucut, Mengaitkan titik demi titik jadi sebongkah diagonal pemahaman maya akanku..
Masihkah kau asing dengan kalimat ini?
Jika nyatanya aku adalah sebuah konstanta berpangkat nol di hatimu..
Kau dapat menggantiku dengan bilangan manapun, namun aku tetap satu...

Rabu, 27 Juli 2011

kanvas langit yang memudar

kusalin beberapa jejak langit yang sempat kuabaikan beberapa tahun ini..
langit memudar menyisakan kealpaan yang kian pekat sesaat kelam membayang..
bukan kata yang kuinginkan..
secuil kehangatan..
peluk dan rangkulah aku yang kini terjebak dalam kesepian..
hanya sejenak 'tuk membuka mataku akan warna..
....
entahlah, aku sendiri pun tak tau jalanku kan berlabuh dimana..
kuhanya mengalir melewati batasan yang coba orang-orang ciptakan akan adaku..
aku hanya mencoba terus bernafas atas namaku sendiri..
seperti jejak aksara yang kerap kali kusulam di selebar kasa
kanvas langit yang memudar
....
bila kupejamkan mata, anganku terbang kemana pun imajinasi kan membawaku..
ini hidup maka nikmatilah..
meski kadang langit tak semempesona dulu..
hujan pun kadang tak seirama detak hati yang bergejolak..
bukankah hanya tanya yang kau pikirkan atas sajak ini..
itu pun jika kau berfikir ini memang sajak..
atau hanya sebatas kertas maya bernoda yang melayang di kanvas langit yang memudar..
kanvas langit yang terlupa..

Minggu, 29 Mei 2011

ilusi

desah udara membashi setiap relung nadi yang berbicara sendiri..
entah peduli atau tidak pada semua tuli yang mendengar..
tidakkah kau merasa siklus ini begitu singkat untuk cintamu yang panjang?
tidak, sama sekali tidak..
bahkan setiap kali langit berbisik soal berita yang dibawa petir lewat sang hujan..
nadiku bergetar, bergemuruh bagai topan  yang tengah murka..
air mataku bertanya, inikah jawabannya?

bujur dan lintang bait yang kutiti hanyalah bagian dari duniaku yang singkat..
ini bukan soal derita yang meracuni pikiranku..
bukan semata-mata karena ilusi yang terbentuk sang arus kebencian..
bukan, bukan sama sekali..
mungkin aku terlalu silau dengan gempita dunia yang membosankan..
atau aku mulai enggan memeluk cahaya di sekitarku?

kalian boleh mengajukan pertanyaan apa saja soal ini..
jawabanku takan berubah..

Sabtu, 14 Mei 2011

Aku Bukan Hujan

aku bukanlah hujan..
yang membasuh peluh gersang di gurunmu..
peredup sengat kemarau panjangmu..

aku bukanlah hujan..
mengkamuflasekan air mata dengan jemariku..
menyamarkan tangis tanpa menyurutkanmu..

aku bukanlah hujan..
yang senantiasa membuatmu ceria..
bermain di derai nafasku..

tetapi sungguh kuingin hidup di bawah hujan..
agar cintamu senantiasa memayungi rinai nafasku..
seperti cintamu pada hujan..
tak pernah putus..
membasahimu tanpa membuatmu merasa kuyup..

Minggu, 01 Mei 2011

Bukan Penyair

Haruskah kuhentikan denyut nadi ini sekejap 'tuk sekedar melihat rahasia langit?
Mengintip garis awan di abu-abu hidupku yang pekat berkabut mendung..
Aku bosan seorang sendiri merajut kata dan bait..
Mendendangkan nada dan syair sepi sendiri..
Aku ingin berlayar, aku ingin menggenggam nafas yang kuimpikan..
Seperti para pujangga yang telah terlebih dahulu berpulang menjemput janji langit..
Menutup kata dan bait hidup selamanya..

Aku bukan penyair, sastrawan pun tidak..
Yang kutulis hanyalah suara hati..
Yang kadang memang tak bisa kunadakan bersama alunan mesra sang pemain irama..
Aku hanya seorang jiwa yang berharap jadi raja di kerdilnya jasadku..
Di dalam ketidakabadian nafasku yang makin rentan seiring hadirnya senja ke umurku..

Rabu, 27 April 2011

Tinggal Cerita

Dalam satu bulan purnama aku akan pergi..
Meniti hati dan titian nurani yang sempat terburai dalam hujan kelam..
Bukan tak peduli..
Kuhanya ingin mendayung sampan malaikat..
Melintasi kealpaan yang kerap kali berkuasa..
Kuhanya ingin menjamah nurani..
itu saja..

Mengingatmu seperti sebuah rutinitas yang membelenggu..
Memasung waktu yang terus saja berlari menjauh..
Seakan detik dan jam benar-benar membenciku..
Menit-menit menatapku murka, aku tetap terpaku..
Minggu berlalu namun kubelum beranjak dari bait ini..
Syair lagu tentang kita, kau dan aku yang tinggal cerita..

Lalu 'kan kubenamkan rasa ini dalam-dalam..
Biar tenggelam namun tak padam..
Terbenam kelam malam namun kuat tertanam..
Berbalut sekam pekat namun takkan kusam..
Terus tertikam dan tak mendendam..
Setenang malaikat dalam diam..
Sediam sayu malam menyulam..
Saat geram terpasung redam..
Tenggelam dalam..

Differensial Isi Hati

Aritmatika usiaku tak dapat membaca geometri pemahamanmu akan langit..
Bagai deretan bait tak terhingga yang menyusuri himpunan matriks segala ordo..
Garis singgung logikaku belum sanggup memahat setiap butir nada di bidang cartesiusmu..
Ini hanya wacana, tak peduli tautologi atau kontadiksi..
Ini nyata sebuah differensial isi hati yang tak dapat kugenggam seorang diri..
Karena serumit apapun integral trigonometri berdiri..
Akan selalu ada jalan keluarnya.