Senin, 31 Oktober 2011

hujan di hatiku

bukankah darahku masih segar akan luka-luka yang cinta tikamkan padaku?
bukankah nyawaku masih diujung tanduk ketika rasa itu pergi, kau dan dirinya?
bukankah teramat singkat untuk cintaku yang padat bila semua ini musnah?
aku masih tertawa dan tersenyum di sepanjang mata sekitarku..
aku masih riang bermandikan canda dan kata-kata..
aku masih sepolos saat itu, saat cinta mengendap-endap masuk ke nadi di darahku..
aku masih sebodoh saat kuputuskan pergi 'tuk membencimu, membatasi cinta ini tumbuh dan mengoyak ragaku dari dalam..
bukankah rintik ini begitu sunyi?
begitu padu pada symponi malam pekat yang bertebar di hatiku..
kosong, hanya secerca asumsi tak berdalil..
hanya aku dan tetes hujan ini..
hujan di hatiku..
....

Satu Hati Saja

Lelah, begitulah malam..
Kala aktifitas mulai akan redupnya..
Kesepian itu hadir lagi bagai serigala buta mengaum ke seluruh penjuru jagad tanpa ada satupun jiwa yang memahami akan arti sepi ini..
Kesepian memang masih terasa menyakitkan buatku yang hampir menatap kosong pada semua langit yang berkibar..
Adakah satu saja hati yang kan sudi disini menemaniku sebait, dua bait, sampai di penghujung bait terakhirku..
Tersenyum mencintai cintaku, yang takan putus...

Minggu, 09 Oktober 2011

Eksponen Aksara Buta (Konstanta Berpangkat Nol)

Pohon faktorku beruntai berantakan..
Korespodensi satu-satu pun terbentuk, mengalikan luka dan kepedihan..
Cinta, mengakarkan kasih sayang jadi ketulusan..
Air mata, eksponen aksara buta yang membisukan segala suara kecuali hati..
Satu demi satu geometri asumsi terbentuk, terangkum aritmatika bilangan tak hingga entah sampai kapan..
Bahkanpun bila mungkin sudut pandangmu mengerucut, Mengaitkan titik demi titik jadi sebongkah diagonal pemahaman maya akanku..
Masihkah kau asing dengan kalimat ini?
Jika nyatanya aku adalah sebuah konstanta berpangkat nol di hatimu..
Kau dapat menggantiku dengan bilangan manapun, namun aku tetap satu...